13 Mei 2009
12 Mei 2009
KEMISKINAN DI KAMPUNG WARIA
Puluhan rumah kumuh berdiri di pantai itu. “Dihiasi” sampah berserakan. Begitu kotor. Di tempat itu, terekam cerita kehidupan anak manusia—bukan lelaki, bukan pula wanita—yang dicap masyarakat sebagai banci (banyak dicaci) atau bencong.
Setiap malam di pantai tersebut, si bencong mencari “mangsa”. Berdandan seksi ala wanita. Rok mini di atas lutut, wajah dibaluri make-up tebal serupa badut. Tak lupa, olesan gincu merah menantang menghiasi mulutnya. Di kegelapan malam, dalam remang cahaya bulan, si bencong menjajakan diri. Mendatangi lelaki, berharap mau diajak berkencan. “Ayo, Mas. Kencan sama aku. Murah kok. Dijamin sip deh! Kita bisa kencan di bibir pantai, lho.” Begitu rayuan si bencong.
Pagi tiba, si bencong pun berubah penampilan. Meski tetap seperti wanita, tapi dia tak lagi sudi memakai rok mini. Malah berpakaian sopan dan rapi. Memakai kerudung dengan tas kecil diletakkan di punggung, mereka mendatangi toko-toko sepanjang jalan, sambil bersenandung. “Aku tak mau, hidupku dicaci maki. Walau ku banci, tapi punya harga diri..” Begitu kira-kira lirik yang dinyanyikannya.
Kehadiran mereka, layaknya penghibur sejati. Apa yang dikerjakannya, selalu menjadi perhatian, baik orang tua, anak muda, bahkan anak kecil sekalipun. Lihat saja, ketika mereka mengamen di kampung-kampung, banyak orang datang berkerumun untuk melihat gaya joget mereka. Megal megol, sambil senyum genit. Karena, hanya itu modal yang dimilikinya. Mereka tak pernah dihargai. Malah selalu menjadi obyek untuk dicaci. Selalu jadi korban diskriminasi. Hingga pada suatu hari, salah satu diantara mereka dihampiri kematian. Dalam ketidakberdayaan, ia menulis sebuah puisi.
Aku adalah banci. Itu kata orang. Semua orang tahu, aku terlahir dari ibu perempuan dan bapak lelaki. Lalu, kenapa orang memanggilku banci? Aku tak ingin terlahir sebagai banci. Karena, banci tak pernah mendapat tempat di masyarakat. Dihina. Dicaci. Dicibir. Ditertawakan. Disepelekan. Direndahkan. Dipermalukan. Diskriminasi selalu terjadi pada kaumku. Padahal kaumku juga pingin hidup layaknya manusia lain.
Ibuku telah renta. Aku harus membantu hidupnya, karena aku bukan banci kaya. Aku dan ibu hidup dalam kemiskinan. Lihatlah rumahku, bukan gedongan. Hanya gubuk yang cukup untuk melindungi aku dan ibu dari panas dan hujan. Aku dan kaumku juga tak ingin hidup terus melacur setiap malam. Atau bersenandung tanpa henti di pagi hari. Tak adakah tempat bekerja yang layak bagi kaumku?
Wahai orang-orang yang merasa paling tinggi, biarkan kaumku hidup dalam ketenangan. Jangan usik kaumku. Jangan ganggu kaumku. Kami juga ingin hidup bahagia dan mulia.
(Pantai Boom, 17-12-2004 : Ditulis kembali untuk mengenang rasa kebersamaan ketika berada di pantai Boom, bersama teman-teman Faskel P2KP di Kota Tuban. (edit: nina)
07 Mei 2009
KENANGAN DI TUBAN BERSAMA MANG TOTOK

KELUGUAN DAN KEJUJURAN SEORANG OFFICE BOY
(Mang Totok, Teman Sekaligus Guru Bagi Kami……..)
Tuban, 2 tahun yang lalu….
Sosok manusia penuh kesederhanaan, keluguan dan kejujuran tercermin dalam diri seorang pemuda yang bekerja sebagai office boy di STL Tuban, KMW X dulu. Pemuda pendiam ini bernama Totok, ada yang memanggilnya Mas Totok dan ada juga yang lebih senang memanggil beliau Mang Totok. Kini kesederhanaan dan kejujuran yang dimiliki oleh Mang Totok membuat kami ingin menceritakan kembali kenangan paling berkesan saat bersama beliau. Karena apa yang dimiliki oleh beliau adalah sesuatu yang luar biasa.., dan tidak mungkin orang seperti kami melupakan kebaikan dan jasa beliau yang tulus tersebut.
Sedikit cerita tentang Mang Totok….,Mang Totok saat itu berusia sekitar 29 tahun, belum menikah dan hanya menyelesaikan sekolahnya sampai tingkat SMP. Pekerjaan sebagai Office Boy, membuat Mang Totok harus bangun pagi-pagi untuk bersih-bersih kantor seperti menyapu, mengepel, mengisi bak kamar mandi dan membuatkan kopi untuk mereka yang tinggal di kantor. Setelah semua pekerjaan yang dilakukannya selesai, sekitar Pukul 08.00 pagi…,Mang Totok pun kembali pulang ke rumahnya. Sampai dirumah, Mang Totok bukannya menganggur, adik perempuan Mang Totok yang punya anak Balita meminta tolong kepada Mang Totok untuk menjaga anaknya tersebut. Dengan penuh kesabaran Mang Totok menjaga keponakannya itu , sambil menemani si keponakan sekalian Mang Totok bisa juga menjaga warung pracangan milik adiknya.
Pagi hari kira-kira jam 10, Mang Totok kembali bekerja untuk menjaga toko kelontongan milik tetangga yang ada di Pasar. Kira-kira jam 12 siang Mang Totok kembali pulang ke rumah. Memasuki sholat Dzuhur, Mang Totok sudah siap berangkat ke mushollah yang berada di belakang rumahnya. Pulang dari musholla, ada saja yang dikerjakan oleh Mang Totok untuk mengisi waktu luang, entah itu mencuci, bersih-bersih, memberi makan ayam dan pekerjaan lainnya. Sore hari di rumah-pun Mang Totok masih juga melakukan aktifitas, entah itu menjaga warung, menemani si keponakan yang masih kecil, ataupun melayani pembeli ikan hias milik adiknya tersebut.
Menjelang Maghrib…,Mang Totok sudah siap-siap pergi ke Musholla untuk sholat jamaah, pulang dari mushollah Mang Totok harus kembali ke Kantor untuk bersih-bersih lagi. Pekerjaan Mang Totok sebagai Office Boy, mengharuskan beliau untuk tidur di kantor sekaligus menjaga agar kantor selalu dalam keadaaan bersih dan aman. Sikap menghargai orang lain membuat Mang Totok sering mengorbankan dirinya sendiri. Ini terjadi manakala Mang Totok seringkali harus menahan kantuknya dan tidak mau mendahului tidur sebelum orang yang ada di kantor tersebut tidur lebih dulu. Mendekati subuh, disaat semua orang yang ada di kantor tersebut belum bangun, Mang Totok sudah mulai melaksanakan aktifitas bersih-bersih sekaligus menyiapkan kopi bagi mereka yang tinggal di kantor tersebut. Ada ciri khas dari Mang Totok yang membuat kami tidak bisa melupakan beliau, yaitu kegemaran mendengarkan lagu-lagu dari radio mini kesayangannya. Bila mendengarkan lagu-lagu, Mang Totok selalu merapatkan radio mini tersebut ke telinganya. Dan sambil mendengarkan radio, Mang Totok bernyanyi lirih menirukan lagu-lagu yang diputar itu. Itulah ciri khas pada diri Mang Totok yang lugu, dimana kami semua masih mengingat betul kegemaran tersebut.
Mang Totok adalah sosok Office Boy yang lugu. Kesederhanaan, kejujuran, pekerja keras, penuh dedikasi dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya menjadikan kami semua harus belajar kepada beliau. Kami masih ingat betul..,apa yang dilakukan oleh beliau saat salah seorang teman kami memberikan “bingkisan” kepada beliau sebagai rasa simpati. Namun apa yang dilakukan oleh Mang Totok terhadap pemberian bingkisan dari salah seorang teman kami tersebut…? Ternyata Mang Totok, tidak ingin menikmati sendiri hadiah dari teman kami tersebut. Bingkisan dari teman tersebut oleh Mang Totok dibagikan kepada teman-teman kami lainnya, termasuk teman yang memberikan itu juga mendapat bagian. Sifat mau berbagi inilah yang jarang sekali dimiliki oleh orang lain. Mang Totok mengajarkan kepada kami semua untuk tidak serakah dan mau berbagi kepada orang lain.
Ada peristiwa yang mengharukan saat kami mengadakan acara perpisahan bersama UPK menjelang selesainya dampingan kami. Acara perpisahan yang diadakan di pantai Sowan - Tuban itu benar-benar menjadi sebuah kenangan yang membekas dalam hidup ini. Masih teringat betul…, malam itu…,saat acara perenungan, kami semua yang hadir mengambil duduk melingkar menghadap api unggun. Saat itu Pak Joko Mulyono (STL), meminta kepada kami semua tanpa terkecuali untuk bisa mengungkapkan kesan apa saja yang ingin disampaikan. Kami, UPK dan Pak Joko pun mulai menyampaikan kesan yang ada,……(bla…bla..bla..). Dan saat giliran Mang Totok diminta untuk menyampaikan kesannya…,secara menakjubkan Mang Totok yang selama ini dikenal lugu, pendiam dan jarang bicara di depan umum.., membuat kami semua terkesima, kagum sekaligus salut atas apa yang diperbuat oleh beliau malam itu. Mang Totok…,dengan keluguannya berbicara di depan kami semua dan menyampaikan kesan yang membuat ‘salah empat’ dari tim kami hampir menitikkan air mata keharuan. Kami masih ingat apa yang diungkapkan oleh Mang Totok saat itu. Beliau dengan keluguannya mengungkapkan rasa terimakasihnya selama ini kepada teman-teman yang telah banyak membuat dia bisa belajar. Beliau mengakui bahwa banyak kekurangan pada dirinya, dan beliau merasa bersedih ketika nanti tidak bisa berkumpul lagi dengan teman-teman. Dan yang membuat kami terharu adalah…,ketika beliau mengungkapkan dalam keterbataannya kepada kami dalam lsebuah ingkaran api unggun ;
“……………..,saya sangat berterimakasih sekali, karena acara malam ini bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Saya senang sekali…,sebab pada hari ini ulang tahun saya bisa bareng dengan acara perpisahan ini. Dan terus terang…,saya mulai kecil sampai sekarang tidak pernah merayakan ulang tahun …,dan hari ini Alhamdulillah ada acara seperti ini…,terimakasih……”.
Itulah ungkapan kejujuran dari Mang Totok manusia yang berhati mulia…..
Siapa menyangka malam itu beliau mengungkapkan perasaannya dengan begitu lugunya….
Kami semua menjadi terharu….,karena acara malam itu bertepatan dengan ulang tahun beliau…..
Pada kalimat akhir Mang Totok…,maka sayapun langsung mengambil Gitar dan secara spontan bersama teman-teman lainnya menyanyikan lagu untuk beliau:
PANJANG UMURNYA….,PANJANG UMURNYA…
PANJANG UMURNYA SERTA MULIA…
SERTA MULIA……,SERTA MULIA….
HAPPY BIRTHDAY TO YOU…………….
HAPPY BIRTHDAY TO YOU…………….
HAPPY BIRTHDAY…………….HAPPY BIRTHDAY…… HAPPY BIRTHDAY TO YOU…………….
Malam itu juga…,Kami semua memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Mang Totok…,kami merangkul Mang Totok dengan keharuan…,tidak seorangpun yang tidak mengucapkan selamat kepada beliau, semua ikut berbahagia sebahagia hati Mang Totok. Terlihat jelas Mang Totok menitikkan air mata kebahagiaan ...,beliau tidak kuasa menahan keharuan atas perhatian yang diberikan oleh taman-teman kepada beliau. Sekali lagi Mang Totok.., selamat ulang tahun….,semoga bahagia selalu mengiringi hidupmu. Tidak ada seorangpun dari kami yang tidak berbahagia melihat Mang Totok berbahagia. Kami bukanlah apa-apa …,dibandingkan kamu yang telah memiliki segudang kejujuran, ketulusan, keluguan dan kesederhanaan maka kami hanyalah bagian terkecil dari makhluk di bumi ini yang masih mencari apa yang telah kamu miliki itu. Maafkan kami Mang Totok…,jika kami salah menilai kamu. Tapi kami sudah yakin…,bahwa kamu sebenarnya adalah orang yang hebat..,kamu adalah orang yang luar biasa.
Hari ini…,untuk mengenang rasa rindu akan kejujuran, ketulusan, keluguan, kesederhanaan dan pengorbanan yang kamu miliki, maka saya bersama teman-teman lainnya seperti ;
Joko Sarwono (Tuban), Suyitno (Pare_Kediri), M. Sofyan (Kalimantan), Sihabuddin (Aceh) dan Muhimuddin (Tuban). Eks Tim A
Saiun Ngalim (Jombang), IIk Tohara (Sabang-Aceh), Haris Yuniarsyah (Srengat_Blitar), M. Luthfi Baihaqi (Sidoarjo), Agus Setyawan (Tuban) dan Widiono (Tuban). Eks Tim B
Hadi Kaswanto (Jombang), Jamilah (Tulungagung), M. Yasak (Wates-Kediri), Slamet Jatmiko (Pare-Kediri) dan Gangsar Yudhono (Wlingi-Blitar). Eks Tim C
Ivan Chudlori (Malang), Amin Mulyanto (Palembang), Tasyhudi (Montong-Tuban), Pratiwi Siswandhini (Wates-Kediri), Heru (Sidoarjo) dan Habib (Pamekasan-Madura). Eks Tim D
Anis Sutrijono (Tuban), Siti Sugiarti (Surabaya), Eri Sunahar (Grogol-Kediri), Agus Setyabudi (Lumajang) dan Muhailili (Wates-Kediri). Eks Tim E
Joko Mulyono (Eks.STL), Erna dan Arif / Nyong. Eks Staf Kantor
….,seharusnya banyak belajar tentang nilai-nilai dari manusia seperti anda. Dan pada kesempatan ini pula saya memohon maaf kepada Mang Totok apabila selama di Tuban banyak berbuat khilaf dan salah menilai tentang diri anda sebenarnya.
Semoga Mang Totok…..akan terus diberi kebahagiaan dalam menjalani hidup…dan yang terpenting pula semoga Mang Totok dapat secepatnya memperoleh jodoh, membentuk keluarga yang berbahagia sakinah dan penuh kasih sayang. (Amin).
06 Mei 2009
SANG ORATOR
SANG ORATOR
Minggu, 25 Februari 2007
Hari itu…aku merasa beruntung, sebab rencana semula naik Bis Patas dari Surabaya menuju Kediri kubatalkan dan beralih menaiki bis kelas ekonomi. Mengapa aku merasa beruntung..? karena andai saja waktu itu aku naik bis patas mungkin aku tidak akan menemukan pengalaman yang berharga dalam hidup ini. Betapa tidak…,dalam suasana yang kurang nyaman…,dengan udara yang panas serta deru suara mesin kendaraan yang membisingkan…,aku menikmati suguhan dari kaum kecil yang lalu lalang dan naik turun silih berganti didalam bis yang kutumpangi itu. Suguhan luar biasa itu bisa menjadi pelajaran penting bagi aku sendiri maupun orang lain. Aku begitu terkagum-kagum dengan keberanain yang dimiliki oleh rakyat jelata demi mencari sesuap nasi.
Yah….sang orator itu ada di depan mataku. Berbekal rasa percaya diri yang luar biasa..seorang ibu setengah baya dengan menggendong anak kecil kira-kira usia 3 tahunan berbicara di depan puluhan penumpang yang ada di bis itu. Si Ibu tidak pernah peduli dengan status sosial dan tingkat pendidikan penumpang. Apakah penumpang itu kaya, miskin tau ia seorang mahasiswa, dokter, dosen, pelajar, aktifis, guru, anggota DPR, buruh pabrik, tukang sayur, kuli bangunan, tim leader atupun seorang fasilitator pemberdayaan. Yang jelas…ibu muda itu dengan semangat dan motivasi yang dimilikinya berusaha mengaktualisasikan dan mengekpresikan dirinya untuk berbicara di depan publik. Akupun berusaha menyimak kata-kata yang terlontar dari mulut si Ibu itu ;
“Assalammu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh..
Bapak-bapak dan Ibu-ibu penumpang yang berbahagia.., jumpa kembali dengan saya pengamen jalanan. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila kehadiran saya mengganggu kenyamanan anda dalam perjalanan ini. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada para kondektur dan para sopir yang mengijinkan saya untuk mengamen di bis ini….(bla…bla…bla…)
lalu si Ibu itu pun mengambil sesuatu dari balik kebaya yang dipakai untuk menggendong anaknya. Sebuah peralatan musik sederhana (ecek-ecek) yang diambil oleh si Ibu itupun dibunyikan dengan diiringi lagu yang menyayat hati dari suara merdu sang biduan jelata ;
“Sungguh terpaksa….aku menyanyi….mendengar suara jeritan hati…..
coba dengarkan….aku menyanyi… mengharapkan tuan bermurah hati….
sungguh aku malu…tiada terkira..
menengadahkan tangan meminta-minta..
Dst……….dst…dst….
Saat lagu yang dinyanyikan oleh Biduan itu berakhir..,maka sang biduanpun menutupnya dengan kalimat sebagai berikut ;
“Demikian sebuah lagu yang kami nyanyikan..semoga dapat menghibur perjalanan bapak-bapak dan ibu-ibu. Sekali lagi saya mohon maaf apabila mengganggu perjalanan anda..,dan tidak lupa kami do’akan semoga perjalanan bapak-bapak dan ibu-ibu mendapat perlindungan dari Allah swt dan selamat sampai tujuan”.
LUAR BIASA…!!! MENGAGUMKAN SEKALI..!!. Tanpa ada rasa takut… grogi..,malu…,minder…,dan tidak perduli apakah yang dihadapi adalah orang yang punya status sosial lebih ataupun berpendidikan tinggi, Si Ibu itu telah membuktikan dirinya dengan menjadi ORATOR YANG ULUNG. Si Ibu itu telah membuktikan bahwa dirinya mampu berbicara di depan public. Si Ibu itu membuktikan kepada dunia bahwa orang miskin pun bisa berbicara di depan umum. Si Ibu itu seolah-olah ingin menunjukkan kepada kita..bahwa orang miskin itu punya potensi. Si Ibu seolah-olah ingin menantang kepada penumpang yang ada di situ..”ayo..siapa yang berani berbicara di depan umum seperti saya ini…?”. Dan si Ibu itu seolah-olah memberikan nasihat kepada saya dan teman-teman lainnya yang berprofesi sebagai seorang calon fasilitator pemberdaya…bahwa aku dan teman-teman pasti bisa menjadi seorang pembicara publik. Barangkali isi nasihat yang diberikan oleh si Ibu itu seperti berikut ini ;
“Engkau harus menjadi dirimu sendiri…
Jangan pernah takut dan malu untuk berbicara di depan umum…
Hilangkan rasa takut dan grogi saat engkau mulai membuka pembicaraan..
Maka kalimat-kalimatmu akan mengalir lancar..
Tapi banyak-banyaklah engkau belajar..
Karena akupun demikian…sebelum aku menyampaikan..aku terus belajar..dan terus belajar.”
Ah…rupanya nasihat yang tersirat dari sorot mata sang Orator begitu melekat dalam ingatanku. Akupun berusaha menyelami makna hidup ini…,bahwa hidup dengan rakyat jelata telah membukakan mata hatiku untuk peduli dan menghargai mereka. Bisa jadi mereka miskin harta..tapi kaya akan ilmu dan pengalaman hidup. Namun banyak juga orang kaya dengan harta yang berlimpah namun sejatinya mereka miskin. Baik miskin ilmu, Akhlak maupun pengalaman hidup.
Pada akhir tulisan ini…sekali lagi saya sangat bersyukur kepada Alllah swt karena bisa menikmati perjalanan dengan menggunakan bis ekonomi dari Surabaya tujuan Pare-Kediri. Tidak lupa pula kami mengucapkan banyak terimakasih kepada SANG ORATOR dalam hal ini para pengamen bis antar kota yang rata-rata punya kemampuan menjadi seorang pembicara public. Karena ternyata selain ibu itu yang menjadi pengamen di bis yang aku tumpangi..masih banyak pengamen lainnya yang juga ikut berorasi di bis tersebut. Dengan demikian akupun banyak mendapat ilmu dari mereka semua. Dan yang jelas..selain ilmu yang bisa kudapat..akupun mendapatkan tambahan bonus berupa do’a keselamatan dari Sang ORATOR.
Terimakasih
Blitar, 28 Januari 2007
Ditulis oleh ;
Haris Yuniarsyah, Eks. Fasilitator P2KP II.2 KMW 16 wilayah dampingan Kecamatan Srengat – Kabupaten Blitar. Saat ini penulis masih berstatus sebagai Fasilitator Kelurahan P2KP Phase II KMW 16 dengan wilayah dampingan Kecamatan Wlingi dan Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar.
Dipersembahkan untuk :
“Teman-teman yang pernah mengikuti pelatihan PNPM P2KP baik di Gelombang I maupun Gelombang II diseluruh Indonesia terutama di wilayah KMW 16. Untuk teman-temanku waktu pelatihan PNPM Gel. I di Diklat PU Surabaya ijinkan saya mengucapkan salam P2KP kepada kalian semua Teman-teman di Kelas C ;
1. Ainur Rosyidi..,ojok latahan dik..?
2. Aisyah Nikma Sariwati...,Nomor Frennya milik siapa ya mbak…?
3. Astri Furqoni…,Kangen suarane dan goyangane itu lho..?
4. Djoko Purmandoko…,apa masih kayak Om Liem..?
5. Dodik Merdiawan…,jadi ingat dengan “kalau Disimpulkan jadi Buaaanyak…? Ha…ha..ha
6. Dwi Ratna Sari..,trims banyak karena aku boleh nitip barang banyak sekali
7. Eddy Iwantoro…,Puisi Kahlil Gibrannya OK banget
8. Elly Sulistiawati…,”pemecah rekor sebagai keluarga P2KP…”
9. Evi Farida Agustina…,mau married mei…jangan banyak main HP di kelas
10. Hantok Fadillah Harmin…,paling muda di antara pemuda
11. Imam Muslim…,Tak disangka..walau berjenggot ternyata pintar njoged juga di depan umum
12. Indah Sumarwana…,jangan nangisan ndah ya..,lagi kangen pak afnun ya..?
13. Kholilah…,Bu guru berkacamata…adiknya Baasy…..
14. Maria Christma…,Bu ket..yang baik hati dan senang sekali nyanyi
15. Moh Afnun…Mudah-mudahan naik hajinya terkabul,,jangan lupa bakso-soto..bakso-soto..
16. Hudi Setyobakti…,pandai juga kamu joget komando
17. Mohammad Ilham…,mana kesimpulannya pak…?
18. Muhammad Ghazi..,Si Ustad serba bisa dan punya daya tarik luar biasa…
19. Novariq Muhariroh…,eh…jangan kurang ajar yo..? ternyata latah juga
20. Nuril Wahyudi…,Dai Bachtiar dari Sumenep
21. Siti Nur Aisyah…,Pemudi paling muda diantara pemudi dan pemuda
22. Nurul Farida…,yang sabar ya..? semoga duka akan segera menghilang.
23. Siti Nur Aisyah..,pemudi paling muda diantara pemudi dan pemuda
24. Triatmono…,”Koclok…edan…,tapi pintar juga goyeng campursari…
25. UM Ali Wardhana…,maaf ngerjain waktu ulang tahun..tapi senang juga kan pak…?
OK…SELAMAT BERJUANG SEMUANYA. HIDUP KELAS C.
05 Mei 2009
Cerita lapang ini kembali ditulis Haris Yuniarsyah, Faskel KMW XVI yang bertugas di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Tulisan ini melukiskan keindahan alam desa dampingan, serta kesan yang tertinggal di dalamnya.
Kunjungan Pak Rikawanto Ke Dusun Bening
Pertengahan Juli 2005, TA Monev RM-3 Jawa Timur, Rikawanto mengunjungi salah satu desa dampingan tim kami, guna mengetahui kegiatan yang dilaksanakan relawan. Kebetulan sore itu di Desa Togogan, relawan sedang menggelar acara kumpul-kumpul untuk persiapan lokakarya Pemetaan Swadaya.
Pak Rikawanto, didampingi Korkot dan Askorkot, kami arahkan ke Dusun Bening. Tepatnya di rumah Pak Nurohim. Pertemuan Pak Rika dengan relawan, tak terkecuali Pak Lurah setempat, berlangsung dalam suasana santai dan hangat. Begitu akrab dan rileks. Tanpa tersirat rasa takut dari wajah para relawan.
Memang sengaja pertemuan itu dilangsungkan di luar ruangan. Di bawah pohon, dalam suasana alam terbuka, bebas, dan dipenuhi udara segar. Sejauh mata memandang, hanya nampak hamparan sawah. Sesekali terlihat kawanan itik yang dihalau pulang ke kandang oleh pemiliknya. Di pojok sawah, tampak seorang bapak menaiki pohon kenanga, memetik kembangnya. Pertemuan sore itu, sungguh berkesan.
“Semoga Pak Rika mau datang lagi ke tempat kami,” kata relawan.
Meninggalkan Hati di Dusun itu
Senja itu, angin berhembus semilir, menuntun langkahku menerobos kegelisahan nan mendalam. Aku ingin segera bertemu dengan wajah-wajah sedih yang terpateri di sana.
Kutinggalkan hati ini di dusun itu. Agar hati ini pun turut merasakan penderitaan yang telah lama dialami mereka. Hidup dalam kemiskinan akibat penindasan dan ketidakadilan.
Tebersit tanya di jiwaku. Mengapa keadilan tak pernah berpihak pada mereka yang miskin? Ke manakah rasa keadilan selama ini? Dengarlah apa yang mereka sampaikan! Dari mulut mereka terlontar cerita, tentang penderitaan hidup yang dialaminya selama puluhan tahun. Kekuasaan menindas mereka. Kekuasaan membuat mereka semakin menderita. Kekuasaan membuat mereka makin tak berdaya! Hanya karena mereka miskin, maka kekuasaan tak mau memihak kepadanya?
Aku meninggalkan hati di dusun itu, dengan perasaan penuh luka. Aku berharap, semoga kemiskinan cepat berlalu. (edit: Nina)25 September 2008
SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1429 H
Semoga di hari yang fitri ini...kita bisa menjadi manusia yang bersih..
bersih dari segala kesalahan...
bersih dari noda dosa...
Tak ada lagi permusuhan diantara kita...
Yang perlu kita pupuk ke depan adalah rasa saling cinta...
rasa saling menyayangi...
Karena permusuhan membuat kita menderita seumur hidup...
Sedangkan cinta dan kasih sayang...menjadikan hidup kita bahagia...
Sekali lagi...selamat hari raya iedul fitri 1429 H..
Mohon maaf lahir batin....
Minal aidin wal faidzin.
Haris Yuniarsyah dan keluarga
13 September 2008
MENGENAI SAYA
AKU DAN KERINDUAN
- Namaku Haris Yuniarsyah.. Lahir pada tanggal 19 Juni 1973 di Surabaya.
- Saat ini usiaku sudah menginjak 35 tahun..,
- Sebuah usia yang sudah tidak muda lagi tentunya.
Tepat tanggal 19 Januari 2005 di Kecamatan Srengat… Allah mempertemukan aku dengan seorang gadis dari Pare-Kediri.
Alhamdulillah…,dari hasil pernikahanku, aku dan istriku dikaruniai 2 orang anak.
Anak pertamaku laki-laki kuberi nama ; MUHAMMAD AZKA ZUHDANSYAH.
Azka Lahir tanggal 10 Juli 2006, pas lagi Final Piala Dunia antara Perancis Vs Italia.
Sedangkan adik Azka perempuan dan kuberi nama ; NAQIYYA ILZA ZAHIRAAH yang lahir pada tanggal 20 Februari 2008.Pada saat Naqiyya lahir..,aku tidak bisa menunggui istriku, karena saat itu aku sedang memandu pelatihan motivasional relawan program PNPM-P2KP di Kec. Wlingi.
Maafkan ayah ya buk…,?. Maafkan ayah ya nak…?.Begitulah kisah tentang aku…
Apabila engkau merindukan aku..
Jangan sungkan dan segan… Untuk terus berkomunikasi dengan aku..
Barangkali itu bisa menjadi pengobat kerinduan… Akan pentingnya keluarga..,Dan persahabatan..,.
(Blitar, 28 Mei 2008)
PAK BASRI
Berikut adalah kumpulan cerita yang ditulis Faskel KMW XVI, Haris Yuniarsyah, yang bertugas di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Masih tentang kepedulian akan rona kemiskinan di wilayah dampingannya.
Pak Basri. Guratan keriput tegas menghiasi pipimu. Penglihatanmu pun mulai berkurang. Namun, engkau senantiasa setia menuntun sepeda birumu yang terisi tumpukan rumput dan ilalang itu. Tak peduli terik matahari, telapak kakimu telah kebal terhadap panasnya aspal jalanan.
Kelelahan membaluri wajah Pak Basri. Hingga detik ini engkau masih terus bekerja. Ratusan kilometer telah kau lalui saat kau tuntun sepedamu. Untuk pria sebayamu, itu sangat jauh. Jauh sekali, Pak Basri. Lalu, kenapa kau lakukan itu? Apakah karena kemiskinan membelenggumu?
Pak Basri. Istirahatlah, Pak. Biarkan rakyat dan negara nan kaya ini mengurusimu. Kini giliranmu beristirahat. Menikmati sisa hidup dengan ketentraman dan ketenangan. Jangan biarkan tubuh tuamu terus menerus dalam kelelahan. Istirahatlah, Pak Basri.
Setiap pagi, Bapak punya hak menikmati secangkir kopi panas. Siang, Bapak punya hak untuk tidur siang seraya mendengarkan gending Jawa yang Bapak suka. Malamnya, Bapak juga punya hak berbagi cerita dengan cucu-cucu bapak. Mendongengkan cerita kepahlawanan, sampai mereka tertidur lelap. Lalu, di penghujung malam, ketika semua orang tertidur lelap, Bapak bisa lebih khusyuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Memohon ampun kepada Allah dalam Tahajud yang Bapak tunaikan.
Istirahatlah, Pak Basri. Jangan biarkan lagi mata orang yang memandangmu meneteskan air keharuan.
Camat itu Bukan Jabatan, Mas!
Siang itu di sebuah rumah di Dusun Kendaldoyong, Desa Togogan, aku berbincang dengan seorang relawan. Dia bercerita, kebanyakan para pemuda di desanya segan ketika harus menghadap Pak Lurah atau pun Pak Camat. Karena, pemuda di sana, menganggap jabatan lurah ataupun camat begitu tinggi, sehingga mereka segan dan takut untuk bertemu kedua “mahluk” tersebut.
Akhirnya, relawan itu menyemangati mereka. “Jangan takut menghadapi mereka. Bupati, camat, lurah, semua itu sebenarnya bukan jabatan, Mas, tapi pekerjaan. Sama seperti pelamar pekerjaan. Mereka juga harus melamar dan mengeluarkan uang. Setelah mereka menjadi bupati, camat, atau lurah pun mereka mendapat gaji setiap bulan. Jadi, mulai sekarang kamu harus berani menghadapi mereka. Kalau memang ada kepentingan, datang saja ke mereka. Nggak usah takut.
“Menurut saya, yang namanya jabatan itu, hanya diemban oleh orang yang benar-benar ikhlas menerima amanah tersebut dari masyarakat. Mereka bekerja tanpa pamrih dan tidak mendapatkan gaji. Nah, seperti relawan masyarakat di P2KP. Itu baru namanya jabatan,” tandas Pak Relawan.
Ah, sekarang aku yang jadi bingung. Memangnya apa sih, Pak, beda jabatan dengan pekerjaan? (edit: nina)

Innalillaahi wa innailaihi Roji’uun…
Telah meninggal dunia dengan tenang, hamba Allah bernama Mbah Rumi. Almarhumah menghadap Sang Khalik pada Senin, 4 September 2006.
Semasa hidupnya almarhumah adalah seorang wanita yang masuk kategori miskin dan merupakan penerima manfaat dana BLM P2KP Termin II untuk kegiatan rehab rumah warga miskin di Desa Dermojayan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur.
Kami, sebagai Fasilitator, turut merasakan kehilangan yang mendalam atas meninggalnya beliau. Namun demikian, kami sedikit lega karena sebelum Mbah Rumi meninggalkan dunia yang fana ini, beliau sempat menikmati rumah barunya yang telah direhab, meski hanya sebentar.
Semoga arwah almarhumah mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga amal ibadah beliau selama hidup di dunia diterima oleh Allah SWT. Dan, semoga segala dosa-dosa beliau diampuni, serta dilapangkan kuburnya. Amin.
Selamat jalan Mbah Rumi. Beristirahatlah dengan tenang. Engkau sudah terlalu lelah menikmati kemiskinan berkepanjangan. Semoga “rumah barumu” di sana menjadi tempat yang lebih baik bagimu. Amin. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI P2KP 2; nina)
Seorang warga Dusun Bening, Togogan, bercerita padaku. Tentang betapa akrabnya kampung dia dengan kemiskinan. Misalnya saja dari lingkungan dan perumahan. Pada umumnya rumah yang dihuni warga miskin, tidak layak huni.
“Masih banyak rumah yang terbuat dari bambu atau gedek. Lantai rumahnya saja masih tanah. Kasihan mereka, Mas,” kata dia lagi. Jalan perkampungan juga masih berupa tanah dan pasir saja, belum diaspal. “Sekitar 10 tahun lalu, jalanan di kampung ini pernah diukur oleh petugas. Katanya, setelah diukur, nanti kampung kami akan diaspal. Tapi, ternyata itu hanya janji belaka. Sampai sekarang tidak ada perubahan, tetap jalanan tanah,” ujar dia lagi. Apalagi, penerangan jalan sama sekali tidak memadai, akibat banyaknya lampu yang mati dan tidak diperbaiki.
Dari segi ekonomi, pada umumnya warga dusun hanya bekerja sebagai buruh tani. Puluhan warga berangkat ke sawah mulai pukul 06.00 WIB untuk manjing (bekerja sebagai buruh tani atau petani penggarap) adalah pemandangan sehari-hari di sana. Sekitar pukul 11.30 WIB, mereka pulang ke rumah, istirahat. Lalu kembali ke sawah sekitar pukul 13.00 WIB hingga petang, sekitar pukul 16.30 WIB. Upah mereka bekerja seharian, hanya Rp 15.000.
Namun, tidak setiap hari mereka bekerja. Karena, pekerjaan baru datang bila ada pemilik lahan yang membutuhkan tenaga mereka. Kadang, dalam sebulan, mereka hanya bekerja 10-15 hari saja. Tidak hanya pria, wanita pun bekerja sebagai buruh tani, agar mencukupi kebutuhan rumah mereka.
Pemuda di kampung juga banyak yang menjadi pengangguran. “Ini karena kurang lahan pekerjaan. Apalagi tingkat pendidikan pemuda di kampung ini masih rendah. Hanya lulusan SD. Jarang sekali yang sekolah sampai lulus SMP, apalagi SMA,” tutur warga itu padaku. Maka, pemuda yang bergelar sarjana pun bisa dikatakan tidak ada. Meski warga tadi masih sangsi. “Mungkin anak ketua RT, Pak Darto, ada yang jadi sarjana. Yah, paling hanya satu – dua orang saja yang punya gelar sarjana di kampung ini,” kata warga itu.
Akibat rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki para pemuda itulah menyebabkan mereka hanya mampu bekerja sebagai buruh tani. “Lha wong cari kerja itu susah toh, Mas. Makanya, kalau nggak ada pekerjaan di sawah, ya mereka menganggur di rumah,” kata si warga. Dia tak memungkiri, ada pula sejumlah pemuda yang memilih mencari pekerjaan di luar kampungnya, sebagai tukang atau kuli bangunan.
Tak sedikit pula penduduk dusun yang bekerja ke luar negeri sebagai TKW atau TKI. Mereka berharap akan menghasilkan banyak uang guna mencukupi kebutuhan keluarga di kampung. Namun, biaya menjadi TKI tidak murah. Maka, mereka pun menjuali sapi atau berhutang ke tetangga dan saudaranya. “Saya sendiri rencana mau ke Kalimantan. Untuk itu, saya berencana menjual kambing untuk ongkos berangkat ke Kalimantan,” tutur dia. Berbeda dengan TKI, menjadi TKW tidak perlu mengeluarkan biaya awal. Nantinya agen akan langsung memotong gaji mereka.
Meski begitu, tidak semua warga langsung berhasil di luar negeri. Malah, ada warga yang pulang kampung tanpa membawa hasil. Kalaupun ada yang membawa penghasilan banyak, justru uang itu digunakan untuk membeli alat rumah tangga seperti TV dan motor. Ketika mereka harus kembali ke tempat mereka bekerja (menjadi TKI lagi), biaya tak ada, barang-barang pun dijual kembali. “Ini kan sama saja bohong ya, Mas? Malah miskin lagi mereka,” katanya. (Haris Yuniarsyah, Faskel KMW XVI, Srengat, Blitar, Jawa Timur; nina)















